Prapto Ari P., S.Pd., Gr.
Prapto Ari P., S.Pd., Gr. Guru Kelas Tersertifikasi untuk jenjang SD/MI sekaligus penggiat teknologi pendidikan. Temukan inspirasi, tips belajar, dan integrasi IT dalam dunia pendidikan bersama guru humoris dan inovatif

Cerpen AI : Kekuasaan, Keserakahan dan Jejak Digital yang Nggak Bisa Bohong

Tidak ada komentar

 Cerita Pendek - Di kantor dinas pendidikan kabupaten, ada satu sosok yang kayaknya udah nge-root banget jabatannya: Bapak Kepala Bidang Pengembangan Karir Guru, sebut aja Pak Jaya. Udah lama dia di situ, kayak patung selamat datang kantor. Kenapa gitu? Soalnya, istrinya itu kepala sekolah beken di kabupaten, punya banyak koneksi dan dukungan. Atasannya Pak Jaya aja kayak nggak berani nyolek dia, udah pewe banget lah pokoknya.

Teknologi dan Sistem Digital berperan untuk Perbaikan Kehidupan

Dulu sih, orang bilang "setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya." Kayaknya pepatah itu lagi nunggu momen yang pas buat nonjolin diri di kasusnya Pak Jaya. Masalahnya, Pak Jaya ini agak-agak gaptek. Dia masih lebih percaya ngobrol langsung sama anak buah daripada mantengin layar komputer. Nah, di sinilah drama mulai seru.

Waktu ada pengadaan guru baru, sistem pendaftarannya udah serba online. Semua data masuk ke sistem, dan yang namanya sistem digital itu kayak satpam super teliti: setiap perubahan, sekecil apapun, pasti dicatat. Ada log istilah kerennya, kayak jejak kaki digital yang nggak bisa dihapus.

Pak Jaya, yang pengen "ngamankan" beberapa nama titipan biar bisa jadi guru baru, gercep nyuruh-nyuruh koleganya, para kepala sekolah yang "seiya sekata" sama dia. Modusnya? Mereka disuruh mainin aplikasi pendataan di sekolah masing-masing. Pokoknya, nama-nama titipan ini dimasukin seolah-olah udah memenuhi syarat buat ikut seleksi. Mereka pikir, ini urusan internal, nggak bakal ketahuan.

Tapi, ya namanya juga pemerintah pusat yang ngurusin pendidikan, mereka nggak buta-buta amat. Mereka punya sistem monitoring yang canggih. Gerak-gerik mencurigakan di data pendaftaran guru baru langsung keendus. Kayak ada yang aneh, kok tiba-tiba banyak nama "ajaib" yang muncul.

Nggak lama, dikirimlah tim khusus buat nyelidikin kejanggalan ini langsung ke lapangan. Semua data di sistem terus dipantengin. Hasilnya? Nggak enak buat Pak Jaya. Ketahuan deh, ada laporan kalau Pak Jaya nerima sejumlah "uang pelicin" dari nama-nama yang dimasukin ke sistem biar bisa lolos jadi guru baru. Lebih parahnya lagi, beberapa nama itu punya hubungan keluarga deket sama Pak Jaya atau koleganya. Wah, bau amisnya udah kemana-mana.

Puncaknya itu waktu ada beberapa guru honorer yang udah lama banget ngabdi di sekolah, eh malah dinyatakan nggak lulus seleksi. Padahal, ada guru "karbitan" yang nggak pernah honor, tiba-tiba lulus di sekolah yang sama. Mereka curiga dong, ada yang nggak beres. Beranilah mereka laporin kejanggalan ini.

Dari laporan itu, makin kebongkar aibnya Pak Jaya. Ternyata, salah satu guru titipannya itu bahkan ketahuan beli ijazah sarjana palsu biar bisa memenuhi syarat. Dan parahnya lagi, Pak Jaya ini yang bantuin "ngurus" semuanya.

Nggak main-main, pihak berwenang langsung bertindak tegas. Penyelidikan mendalam dilakuin, didukung sama jejak digital yang nggak bisa bohong dari sistem. Terbukti deh, Pak Jaya bersalah manipulasi data buat kepentingan pribadi dan kroni-kroninya.

Akibatnya? Nggak enak banget buat Pak Jaya dan keluarganya. Asetnya disita, dari rumah mewah sampai mobil kinclong. Istrinya, yang malu banget, langsung gugat cerai. Anaknya, yang udah gede dan ngerti berita, depresi berat karena malu sama kelakuan bapaknya, sampai akhirnya... ya gitu deh, tragis banget.

Semua Ada Masanya, Tetaplah Berbuat Baik & Amanah

Kasus ini terus dikembangin. Beberapa kepala sekolah yang ikut main curang juga nggak lolos. Mereka dicopot dari jabatan, diperiksa, dan yang terbukti ikut nerima suap, ya masuk bui. Aset mereka juga disita, bikin keluarga mereka jatuh miskin dan malu.

Berita ini nyebar kayak virus di internet. Bupati yang tadinya adem ayem, langsung marah dan malu banget. Reputasi kabupaten langsung jelek. Akhirnya, dengan berat hati, semua kelulusan guru baru yang terbukti terlibat kecurangan dibatalin. Pejabat lain setiap ada rapat atau pertemuan dengan daerah lain pun turut malu atas kejadian tersebut, karena terus menjadi topik pembicaraan yang hangat di luar sesi pada saat istirahat kegiataan.

Nah, dari cerita ini, kita bisa lihat kan? Dulu, mungkin kecurangan kayak gini bisa ditutup-tutupi. Tapi sekarang, di era digital, semua ada jejaknya. Sekali berbuat salah di sistem, susah banget ngilanginnya. Kekuasaan itu kayak pisau bermata dua, kalau nggak dipake dengan bener, bisa balik nyakitin diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Jadi, hati-hati ya kalau punya wewenang, apalagi yang nyangkut urusan orang banyak. Ingat, jejak digital itu abadi, bro!

Cerita Pendek ini digenerate menggunakan teknologi AI dengan prompt yang dibuat oleh Prapto Ari P, S.Pd., Gr. Temukan cerita pendek seru lainnya yang akan terbit di blog ini. Memiliki ide cerita seru? Yuk kirim melalui halaman > Kontak yang ada diblog ini. Salam sehat bahagia dan mencerdaskan!

Prapto Ari P., S.Pd., Gr.
Prapto Ari P., S.Pd., Gr. Guru Kelas Tersertifikasi untuk jenjang SD/MI sekaligus penggiat teknologi pendidikan. Temukan inspirasi, tips belajar, dan integrasi IT dalam dunia pendidikan bersama guru humoris dan inovatif

Komentar