Cerita Pendek - Mentari pagi menyapa jendela ruang guru SMP Harapan dengan sinarnya yang hangat. Di antara kesibukan para guru mempersiapkan materi ajar, sosok Arya tampak paling menonjol. Usianya baru menginjak kepala tiga, namun sorot matanya menyimpan ambisi yang membara. Ia adalah guru Matematika yang cerdas dan berdedikasi, setidaknya itulah kesan pertama yang ditangkap oleh rekan-rekannya. Namun, di balik keramahannya tersimpan hasrat yang kuat untuk menduduki kursi kepala sekolah.
![]() |
| Ambisi yang Membutakan - Cerpen AI |
Arya memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ia akan memajukan SMP Harapan. Ia sering kali melontarkan ide-ide brilian dalam rapat guru, tak jarang menyindir kebijakan kepala sekolah yang dianggapnya kurang inovatif. Awalnya, rekan-rekannya terkesan dengan semangatnya. Namun, lama kelamaan, mereka mulai merasakan ada yang aneh dengan Arya.
Ia selalu berusaha menonjol di setiap kesempatan. Ketika ada proyek sekolah, ia akan mengambil alih kendali, sering kali mengabaikan kontribusi rekan-rekannya. Pujian dari kepala sekolah atau pengawas sekolah selalu disambutnya dengan senyum lebar, seolah pencapaian itu sepenuhnya hasil karyanya sendiri. Tak jarang, ia "tidak sengaja" melupakan nama rekan yang turut andil dalam keberhasilan tersebut.
Salah satu korban ambisi Arya adalah Risa, guru Bahasa Indonesia yang kreatif dan memiliki banyak ide. Suatu kali, Risa mengusulkan program literasi sekolah yang inovatif. Arya mendengarkannya dengan seksama, lalu beberapa hari kemudian, ia mempresentasikan ide serupa kepada kepala sekolah, mengklaimnya sebagai gagasannya sendiri. Risa merasa terpukul dan malu. Ia tidak menyangka rekan yang selama ini terlihat ramah bisa berbuat seperti itu.
Kejadian serupa terus berulang. Guru Olahraga yang berprestasi di bidang kepelatihan, idenya tentang pengembangan ekstrakurikuler juga "diadopsi" Arya tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa guru yang mencoba memberikan masukan atau kritik terhadap ide Arya justru dianggap menghambat kemajuannya. Mereka merasa diremehkan dan tidak dihargai.
Perlahan, lingkaran pertemanan Arya menyusut. Rekan-rekan guru mulai menjaga jarak, enggan berbagi ide atau terlibat dalam proyek bersamanya. Mereka merasa lelah dan muak dengan sikap Arya yang selalu ingin menjadi pusat perhatian dan merendahkan orang lain demi mencapai tujuannya.
Namun, Arya seolah tidak menyadari atau mungkin tidak peduli dengan perubahan sikap rekan-rekannya. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal: bagaimana caranya agar kepala sekolah saat ini segera pensiun atau dipindahtugaskan, dan ia bisa menggantikannya. Ia terus mencari celah kesalahan kepala sekolah, bahkan tak segan menyebarkan isu-isu negatif di kalangan staf dan komite sekolah.
Suatu sore, tanpa sengaja, kepala sekolah mendengar percakapan Arya dengan salah satu staf tata usaha. Arya sedang berusaha mempengaruhi staf tersebut untuk memberikan informasi "rahasia" tentang pengelolaan keuangan sekolah yang bisa ia gunakan untuk menjatuhkan kepala sekolah. Kepala sekolah yang selama ini hanya mendengar keluhan samar-samar tentang sikap Arya, akhirnya menyadari ada yang tidak beres.
Kepala sekolah kemudian melakukan pendekatan secara personal kepada beberapa guru yang tampak menjauhi Arya. Dari percakapan tersebut, terungkaplah berbagai tindakan Arya yang merugikan dan mengecewakan rekan-rekannya. Kepala sekolah yang memiliki latar belakang psikologi, mulai mencurigai adanya masalah yang lebih dalam pada diri Arya.
Setelah melakukan observasi dan berdiskusi dengan seorang psikolog, kepala sekolah mendapatkan pemahaman yang lebih jelas. Sikap Arya yang selalu ingin mendominasi, merendahkan orang lain, merasa paling benar, dan kurang memiliki empati, mengarah pada indikasi Narsistik Personal Disorder (NPD).
Ulasan Singkat tentang Narsistik Personal Disorder (NPD)
Narsistik Personal Disorder (NPD) adalah kondisi mental di mana seseorang memiliki rasa kepentingan diri yang berlebihan, kebutuhan yang mendalam untuk dikagumi, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Individu dengan NPD sering kali memiliki keyakinan yang kuat bahwa mereka istimewa dan berhak mendapatkan perlakuan khusus. Mereka cenderung memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan mereka, sulit menerima kritik, dan sering kali menunjukkan perilaku arogan dan merendahkan.
Dalam kasus Arya, ambisinya yang berlebihan untuk menjadi kepala sekolah menjadi manifestasi dari NPD-nya. Ia merasa dirinya paling layak dan tidak ragu untuk menyingkirkan orang lain yang dianggap menghalangi jalannya. Ia tidak peduli dengan perasaan rekan-rekannya yang merasa dimanfaatkan dan dikecewakan. Baginya, yang terpenting adalah mencapai tujuannya, dan pengakuan atas kehebatannya.
Meskipun rekan-rekannya semakin menjauhinya, Arya tidak merasa terusik. Ia justru semakin fokus pada usahanya untuk mendapatkan posisi kepala sekolah. Baginya, persahabatan dan hubungan baik dengan kolega tidak sepenting kekuasaan dan status. Ia yakin, begitu ia menduduki kursi kepala sekolah, semua orang akan menghormatinya, terlepas dari cara yang ia tempuh.
Namun, tanpa disadarinya, kesendirian dan isolasi yang ia ciptakan sendiri justru menjadi penghalang terbesar bagi ambisinya. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan dukungan dan kerjasama tim. Bagaimana mungkin ia bisa memimpin sebuah sekolah dengan baik jika ia tidak mampu membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai dengan orang-orang di sekitarnya?
Kisah Arya menjadi ironi seorang guru muda yang cerdas dan berpotensi, namun dibutakan oleh ambisi dan terperangkap dalam bayang-bayang narsismenya sendiri. Ia mengejar kekuasaan dengan mengorbankan hubungan baik dan integritas, tanpa menyadari bahwa fondasi kepemimpinan yang sebenarnya terletak pada rasa hormat dan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpin. Akankah Arya menyadari kekeliruannya sebelum semuanya terlambat? Waktu akan menjawabnya.
Cerita Pendek ini digenerate menggunakan teknologi AI dengan prompt yang dibuat oleh Prapto Ari P, S.Pd., Gr. Temukan cerita pendek seru lainnya yang akan terbit setiap minggu di blog ini. Salam sehat bahagia dan mencerdaskan!
