Prapto Ari P., S.Pd., Gr.
Prapto Ari P., S.Pd., Gr. Guru Kelas Tersertifikasi untuk jenjang SD/MI sekaligus penggiat teknologi pendidikan. Temukan inspirasi, tips belajar, dan integrasi IT dalam dunia pendidikan bersama guru humoris dan inovatif

Cerpen AI : Sepi di Lembah Kabut dan Cerita Sunyi

10 komentar

 Cerita Pendek - Mentari pagi merayap di balik kabut tipis Desa Cempaka. Embun membasahi jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah kayu. Di tengah sunyi yang sesekali dipecah kokok ayam, Bayu berjalan gontai menuju SDN Cempaka.

Cerita Sunyi di balik Kabut

Bayu adalah guru muda yang merantau jauh dari keluarganya di dekat kota. Ia berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda dengan Desa Cempaka. Namun, ia lulus seleksi pegawai negeri dengan harapan besar untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Ia membayangkan sistem yang adil dan merata, sesuai dengan aturan yang berlaku. Perjalanan menuju desa terpencil ini ditempuhnya selama tiga jam setiap subuh, sebuah dedikasi tulus untuk menjadi seorang guru.

Desa Cempaka, dengan tradisi kuatnya, baru saja tersentuh jaringan telekomunikasi. Gawai pintar mulai terlihat, namun sebagian besar warga masih bergantung pada ladang dan sawah. Sekolah dituntut mengikuti perkembangan teknologi, sebuah tantangan tersendiri.

Kepala Sekolah SDN Cempaka, Bapak Surya, tampak berwibawa. Namun, ia khawatir dengan kehadiran Bayu yang cerdas dan berpotensi menjadi pesaing. Bapak Surya memiliki saudara kandung di kantor dinas pendidikan kabupaten, sebuah keuntungan tersendiri.

Kejanggalan mulai dirasakan Bayu sejak awal. Sambutan Bapak Surya memang ramah, namun setelah itu, Bayu seringkali tidak memiliki tugas mengajar yang jelas. Jadwal sudah penuh. Ide-ide Bayu tentang pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran hanya ditanggapi dengan anggukan tanpa tindakan atau senyum meremehkan.

"Bayu," kata Bapak Surya suatu pagi, "desa kita ini masih kuat tradisinya. Anak-anak lebih suka belajar di luar, menghafal lagu daerah. Teknologi itu urusan kota."

Namun, Bayu melihat potensi di balik keterbatasan. Ia melihat antusiasme anak-anak ketika ia menunjukkan video pembelajaran sederhana. Ia yakin teknologi bisa membuka wawasan mereka.

Konflik memuncak ketika kantor dinas mengirim guru baru lagi ke SDN Cempaka dengan alasan pemerataan. Bayu tahu itu hanya formalitas; guru baru itu adalah keponakan Bapak Surya. Kini, dengan tiga guru untuk jumlah murid yang sama, Bayu semakin tersisih.

"Maaf, Bayu," ujar Bapak Surya suatu siang, "jadwal sudah penuh. Kamu bantu administrasi saja ya sementara."

"Bantu administrasi?" pikir Bayu getir. Ia seorang guru, bukan staf tata usaha. Ia ingin mengajar, berbagi ilmu. Namun, ia terperangkap dalam situasi yang sengaja dibuat.

Hari-hari Bayu di SDN Cempaka terasa kosong. Ia datang ke sekolah tanpa tugas, menyaksikan rekan-rekannya mengajar. Ia merasa terasing.

Kabar tentang guru baru yang tidak diberi pekerjaan mulai menyebar di desa. Beberapa orang tua murid yang melihat potensi Bayu merasa bingung. Namun, pengaruh Bapak Surya di kantor dinas membuat keluhan mereka tidak berarti.

Bapak Surya merasa aman dengan kekuasaannya. Ia tidak menyadari bahwa tindakannya bukan hanya merugikan Bayu, tetapi juga menghambat pendidikan anak-anak Desa Cempaka. Kehadiran guru bersemangat seperti Bayu seharusnya menjadi aset.

Setelah berbulan-bulan tanpa kejelasan mengenai tugasnya, Bayu akhirnya "dirumahkan" dengan alasan kelebihan guru. Untuk bertahan hidup sambil menunggu kejelasan statusnya, ia menjadi sopir taksi daring di sekitar kota. Ini adalah pekerjaan yang jauh dari impiannya, namun ia harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Secara ekonomi, ia sangat dirugikan oleh situasi ini.

Penyalahgunaan wewenang dalam pendidikan, seperti penyakit yang menggerogoti, merusak kualitas sekolah. Semangat guru yang ditekan, inovasi yang diabaikan, dan potensi yang disia-siakan akan berdampak buruk pada masa depan anak-anak.

Bayu, meski kecewa, mulai merenung. Ia datang dengan idealisme, namun kenyataan pahit menghadangnya. Ia mengerti bahwa pendidikan yang merata bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang integritas dan keadilan. Perjalanannya di Lembah Kabut ini mungkin baru permulaan, bukan sebagai guru di kelas, tetapi sebagai saksi bisu tentang dampak buruk penyalahgunaan kekuasaan dalam dunia pendidikan. Sepi di lembah kabut itu menjadi pengingat bahwa pendidikan berkualitas membutuhkan hati yang bersih dan niat yang tulus dari semua pihak.

Cerita Pendek ini digenerate menggunakan teknologi AI dengan prompt yang dibuat oleh Prapto Ari P, S.Pd., Gr. Temukan cerita pendek seru lainnya yang akan terbit setiap minggu di blog ini. Salam sehat bahagia dan mencerdaskan!

Prapto Ari P., S.Pd., Gr.
Prapto Ari P., S.Pd., Gr. Guru Kelas Tersertifikasi untuk jenjang SD/MI sekaligus penggiat teknologi pendidikan. Temukan inspirasi, tips belajar, dan integrasi IT dalam dunia pendidikan bersama guru humoris dan inovatif

10 komentar